'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » Pendidikan » Budayakan Kebiasaan Membaca sebagai Kebutuhan
Budayakan Kebiasaan Membaca sebagai Kebutuhan
03 Oktober 2019 20:23 WIB | dibaca 16
oleh: Parijem (Sekretaris LPPA PDA Banjarnegara)

 

             Buku adalah jendela dunia. Kalimat itu sering kita jumpai dan  terpampang di dinding-dinding sekolah. Tapi sudahkah kita sebagai guru selalu akrab dengan buku dan senantiasa membacanya setiap saat ?  Membaca merupakan kebutuhan, karena dengan membaca orang dapat meningkatkan kualitas diri, menembus ruang dan waktu, serta dapat memperluas wawasannya, oleh karena itu jadikan kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan pokok seorang pendidik.

 

Buku Sebagai Sumber  ilmu

            Buku adalah  sumber ilmu dan teman yang paling setia. Ungkapan tersebut menurut penulis tidaklah berlebihan karena sejak zaman dahulu buku memang sudah ada. Ditengah derasnya teknologi ICT buku tetap memiliki berbagai sisi positif yang patut kita lestarikan. Dari buku-buku tersebut kita akan memperoleh berbagai ilmu pengetahuan. Dengan buku siswa dapat belajar berbagai hal dan seorang guru dapat menyerap berbagai ilmu yang  kelak akan diajarkan pada anak didiknya baik berupa pengetahuan, ketrampilan, penanaman nilai, sikap mental, budi pekerti maupun kepribadian yang mantap.

            Walaupun sekarang ini teknologi elektronik makin canggih namun buku masih tetap eksis , karena sebenarnya  manusia tak dapat dipisahkan dari buku karena buku punya keistimewaan tersendiri. Keunggulan buku dibanding media elektronik antara lain : buku dapat dibawa kemana saja, dapat dipergunakan kapan saja, dimanapun juga walaupun ditempat terpencil yang  tak ada sinyalnya, di hutan, di gunung  dan tak membutuhkan aliran listrik. Buku juga teman yang paling setia karena mudah dan bisa diajak kemanapun dan setia menemani kita. Bagi  seorang kutu buku, buku adalah pacar yang sangat asyik dan oke. Tak heran jika hingga saat ini buku masih menjadi sumber dan pusat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, informasi, hiburan dan pendidik bagi jutaan manusia. Bahkan Thomas Carlyle pernah menyatakan bahwa Perguruan Tinggi yang sebenarnya untuk zaman sekarang adalah Kumpulan Buku. Dengan demikian buku merupakan elemen vital dalam perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

Membaca Sebagai Suatu Kebutuhan

            Membaca adalah dasar atau awal dari setiap penyerapan ilmu pengetahuan, sehingga dulu ketika Muhammad diangkat menjadi Rosul perintah pertamanya adalah membaca ( QS. Al ‘Alaq 1-5 ). Sekarangpun seorang tokoh agama, da’i, pastur, dosen,  pejabat pemerintah, penyiar ataupun guru tak akan bisa lepas dari kegiatan membaca. Tanpa membaca seseorang akan sulit menerima, meresapi dan menyimpan suatu ilmu. Kemampuan membaca juga merupakan awal atau dasar kemampuan penguasaan seseorang terhadap pemahaman  suatu ilmu. Orang yang mempunyai kemampuan tinggi akan mudah memahami ilmu pengetahuan demikian sebaliknya, orang yang mempunya kemampuan membaca rendah cenderung sulit dalam memahami suatu ilmu baru. Melalui membaca orang akan dapat mengetahui peristiwa masa lampau, masa sekarang bahkan peristiwa yang akan datang terkadang dapat diprediksi dengan membaca. Ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang dan perubahan yang terjadi terus menerus serta kecanggihan teknologi seperti sekarang ini tak lepas dari catatan dan buku, sehingga kalau kita malas membaca maka kita akan ketinggalan informasi dan picik dalam berpikir. Ibarat Bagai Katak Dalam tempurung.

            Apabila kita sudah dapat merasakan kenikmatan  atau manfaat membaca, bukan mustahil  kegiatan membaca bisa berubah menjadi kebiasaan bahkan kebutuhan. Sayang sekali masyarakat kita masih sedikit yang mempunyai kebiasaan membaca. Waktu luang cenderung dipergunakan untuk mengobrol bahkan terkadang hanya untuk melamun atau bengong tanpa tahu harus diisi apa. Di stasiun, terminal, halte, dalam bus, ruang tunggu, masih jarang kita temui orang asyik membaca sambil menunggu, padahal kalau kita liha TV di Jepang, Korea, Inggris dan Amerika ditempat –tempat tersebut terlihat orang sambil menunggu asyik membaca buku. Tak heran jika hasil penelitian IEA mengungkapkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke-26 dari 27 negara yang diteliti. Hal ini tentunya menggambarkan betapa masih rendahnya kebiasaan membaca di negara kita ini. 

            Pendirian beberapa Taman bacaan di negara kita ini, tentunya merupakan salah satu langkah  positif dalam hal penyediaan sarana dan prasarana agar masyarakat  lebih dekat dan akrab, tak merasa asing dengan buku, mau membaca, membiasakan membaca dan pada akhirnya membaca menjadi suatu kebutuhan. Untuk itu mari kita ciptakan lingkungan yang kondusif di sekitar kita agar minat membaca makin kuat. Kita mulai dari keluarga kita masing-masing, misalnya meluangkan waktu seusai magrib untuk membaca/ belajar bersama, memberi hadiah berupa buku,  pengembangan perpustakaan keluarga, perpustakaan masjid, perpustakaan desa, perpustakaan sekolah taman bacaan, dan budaya cinta buku yang dapat mewujudkan lingkungan yang mendorong tumbuh dan berkembangnya  minat baca masyarakat. Alangkah tidak pantasnya  jika kita selaku warga Muhammadiyah tidak suka membaca, dan tidak bisa menjadikan kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan. Sudahkan hari-hari kita terbiasa hambar jika belum membaca ? Jika belum mulailah dari sekarang !!! Marikita membaca dengan niat ibadah!!!(Parijem, LPPA PDA Banjarnegara)

Shared Post:
Arsip
Pendidikan Terbaru
Berita Terbaru